Text
Tragedi di Malam Gebyur
Pada masa orde lama, orang-orang atheis sangat gemar menyebarkan faham komunis. Mereka menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan dan target-target mereka. Salah satu contohnya adalah lembaga kesenian yang bisa mengekspresikan kebebasan mereka dalam berperilaku. Tayub dan ronggeng sebagai kesenian orang padukuhan yang dianggap sakral dan suci, dijadikan media untuk menghibur rakyat yang hidupnya melarat. Kesenian itu, membuat rakyat semakin eforia terhadap partai. Mereka seperti keranjingan, brutal, dan mau berbuat apa saja. Namun, kebenaran pada akhirnya selalu menang. Seperti kata pepatah orang dukuh, Suradira bakal lebur dening pangastuti. Partai yang tidak dijiwai agama itu akhirnya berhasil dibekukan. Tapi, saat mendapatkan ilham dari para punden untuk kembali menghidupkan tradisi ronggeng. Hampir semua penduduk dukuh Mlaka setuju dengan rencana itu, kecuali seorang pemuda yang baru pulang dari Pondok Pesantren Seorang diri, pemuda itu berjuang memahamkan penduduk Mlaka.
Tidak tersedia versi lain